PDKT VERSI FILSAFAT : (MEMAHAMI FILSAFAT DALAM BERBAGAI MACAM ALIRANNYA)

 

Filsafat merupakan sebuah dunia yang sangat menarik dan membuat penasaran untuk dipelajari dan didalami. Ketika mempelajari filsafat saya merasa seperti diajak untuk melakukan petualangan dan menjelajah ke dalam pikiran manusia misalnya, Apa arti hidup ini? Apa yang membuat segala sesuatu itu benar atau salah? Bagaimana kita dapat mengenal diri sendiri dan dunia di sekitar kita? Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat filsafat menjadi lebih seru dan menantang, kenapa begitu? Yaaa,,karena dalam filsafat tidak ada jawaban yang instan, mempelajari filsafat itu harus dipelajari secara radikal karena di dalam filsafat itu terkadang terdapat istilah-istilah yang rumit dan konsep-konsepnya yang abstrak sehingga memerlukan penafsiran dan persepsi yang mendalam jadi kita diajak untuk bisa terus berpikir, merenung, berdiskusi dan memahami berbagai sudut pandang. Untuk mempraktikkan hal tersebut tentu tidak mudah, bosan, terasa sulit bahkan frustasi menurut beberapa orang. Namun menurut saya permasalahan tersebut justru memiliki keunikan dan daya Tarik tersendiri.

Oiya, kenalin aku Nanda Icha Rumaningsih dari jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Dimana pembelajaran filsafat ini diampu oleh Ibu Lailatuz Zuhriyah, M. Fil. I, beliau sangat sabar dalam mengajar, membimbing dan mengarahkan kami khsususnya dalam membantu memahami filsafat. Jadi awalnya orang itu tidak mengerti sebenarnya pengetahuan itu berasal dari mana dan bersumber dari mana?. Nah hal ini sebenarnya berkaitan dengan pikiran dan logika kita sendiri  (rasionalisme) tanpa harus ngandelin apa yang kita lihat atau rasain secara langsung. Intinya akal itu punya kekuatan besar buat ngerti banyak hal yang ada didunia ini. Misalnya cara berpikir Descrates, dia bilang “Aku berpikir, maka aku ada” maksudnya selama kita bisa mikir maka kita itu pasti ada dan benar-benar ada tanpa diragukan. Orang yang percaya pada rasionalisme ini mereka akan bilang kalau pengalaman itu nggak penting, mereka pengen kita nggak Cuma asal percaya sama apa yang kita lihat tapi harus mikir dan menalar supaya bisa mendapatkan pengetahuan yang benar-benar kuat. Jadi intinya rasionalisme ngajarin kita buat selalu memfungsikan otak, berpikir kritis dan nggak mudah percaya sama hal-hal yang belum tentu kejelasannya. Dalam Pendidikan islam, akal juga sangat dihargai untuk memahami ajaran agama dan ilmu pengetahuan jadi pendekatan ini cocok untuk melatih siswa berpikir kritis dan analitis. Selanjutnya yaitu empirisme, dalam pemikiran ini pengetahuan itu didapat dari pengalaman langsung dan apa yang kita rasakan lewat panca Indera seperti melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasakan. Misalnya ketika kita belum pernah lihat dan pegang apel tentu pengetahuan tentang apel bis akita dapatkan saat mengalami sendiri, melihatnya langsung bahkan rasanya seperti apa. Dalam Pendidikan islam pengalaman ini penting agar tidak hanya berhenti di kepala saja tetapi juga diamalkan dalam kehidupan.

Ketiga yaitu kritisisme yang mencoba menggabungkan dua pandangan yaitu rasionalisme dan empirisme. Jadi Ketika rasionalisme bilang kalau pengetahuan  itu berasal dari pikiran dan empirisme bilang kalau pengetahuan itu datang dari pengalaman dengan melihat langsung. Nah kritisisme bilang “eh, sebenernya keduanya dipakai bareng-bareng aja gimana?” Artinya kritisisme ngajarin buat kita untuk nggak percaya sama pikiran dan pengalaman saja tapi ada aturan-aturan dari pikiran kita sendiri yang membantu memahami. Dalam Pendidikan islam sikap kritis dapat membantu siswa untuk memahami agama secara mendalam dan tidak mudah terpengaruh pada hal-hal yang salah. Kemudian ada positivisme Dimana cara berpikir kalau pengetahuan itu benar-benar dipercaya berasal dari fakta-fakta yang bisa diamati dan dibuktikan secara ilmiah. Jadi dalam positivisme kita nggak boleh Cuma percaya sama teori dan pendapat tanpa membuktikannya secara langsung atau bisa dilihat, diukur dan diuji. Dalam Pendidikan islam pendekatan ini menekankan pada prinsip agama dan fakta empiris. Di dalam eksistensialisme cara berpikir yang fokus dengan kehidupan dan keberadaan manusia secara pribadi, artinya sudah nggak mikirin dunia luar atau teori-teori rumit tetapi kita sebagai manusia menjalani hidup, mengambil Keputusan dan menghadapi  kebebasan dan tanggungjawab yang kita punya. Pendidikan islam juga mengajarkan bahwa setiap individu bertanggungjawab atas pilihannya sehingga dapat memperkuat kesadaran spiritual dan moral siswa. Terakhir yaitu pragmatisme yang berfokus pada manfaat dan hasil nyata dari suatu ide dan pengetahuan. Dalam Pendidikan islam pragmatisme mendorong agar ilmu yang diajarkan tidak hanya teori saja tapi juga manfaat yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

Sebagai seorang muslim Ketika menghadapi objek pengetahuan yang sifatnya abstrak dan tidak bisa dijangkau oleh akal, pengalaman maupun metode ilmiah harus disesuaikan dengan ajaran islam serta menggabungkan beberapa sumber pengetahuan yaitu wahyu, akal dan intuisi spiritual. Akal adalah alat penting untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya serta menafsirkan wahyu secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sementara pentingnya pengalaman inderawi berguna untuk memahami alam dan fenomena nyata. Namun tidak cukup mengandalkan inderawi saja dalam islam karena ada banyak hal yang tidak bisa dibuktikan secara empiris seperti kebenaran malaikat, alam akhirat dan sifat-sifat Allah. Oleh karena itu untuk menjembatani keterbatasan tersebut epistimologi islam menambahkan dimensi spiritual atau pengalaman batin dalam menangkap kebenaran secara langsung melalui hati yang bersih dan keedekatan dengan Allah.

Nah dari berbagai macam pendekatan dalam filsafat saya mendapatkan sebuah pengajaran untuk berpikir kritis dan mendalam tentang suatu hal, tidak menerima sesuatu secara mentah-mentah tanpa mempertanyakan dan mencari alasan kuat yang mendasari hal tersebut. Filsafat itu juga membantu saya dalam memahami ilmu pengetahuan dan kehidupan tidak hanya mengenai teori belaka namun nilai, makna dan tujuan hidup yang lebih luas serta membuka wawasan saya tentang bagaimana berbagai pendekatan dapat saling melengkapi sehingga mampu melihat masalah dari berbagai macam sudut pandang. Untuk pembelajaran filsafat di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ke depan, saya berharap masing-masing individu memperhatikan, menyimak dan mendengarkan dengan baik sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal inilah mereka merasakan manfaatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Perkuliahan Filsafat Umum : Memahami ilmu pengetahuan dalam filsafat